Ekonomi

Bank Indonesia Jaga Rupiah Saat Inflasi Oktober Capai 3,23%

Bank Indonesia inflasi rupiah
Bank Indonesia inflasi rupiah

Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah setelah inflasi Oktober 2026 tercatat 3,23 persen secara tahunan. Rupiah ditutup melemah tipis ke Rp18.156 per dolar AS pada Senin, 2 November 2026.

Bank Indonesia (BI) menghadapi tekanan ganda pada awal November 2026, yakni inflasi yang mendekati batas atas sasaran dan rupiah yang masih rentan terhadap pergerakan dolar AS. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Oktober 2026 sebesar 3,23 persen, sedangkan inflasi bulanan berada di 0,22 persen.

Angka inflasi tahunan itu melandai tipis dibanding September 2026 yang sebesar 3,28 persen. Meski demikian, posisi 3,23 persen semakin dekat dengan batas atas sasaran inflasi BI dan pemerintah sebesar 2,5 persen ditambah minus 1 persen, atau kisaran 1,5–3,5 persen.

Bank Indonesia Jaga Rupiah

Perdagangan Senin, 2 November 2026, menunjukkan rupiah ditutup melemah 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp18.156 per dolar AS. Pada pembukaan pagi, rupiah sempat berada di Rp18.149 per dolar AS, turun tipis dari penutupan Jumat, 30 Oktober 2026.

Bank Indonesia tetap menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas. Bank sentral menerapkan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF), serta pembelian obligasi di pasar sekunder untuk meredam volatilitas.

Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan arah kebijakan tersebut dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur pada 21 Oktober 2026. “Kebijakan moneter ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang makin kuat, dan upaya menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027,” ujarnya.Destry Damayanti

Inflasi Oktober 2026 3,23 Persen

BPS melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 112,31 pada September 2026 menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Kenaikan itu menghasilkan inflasi bulanan 0,22 persen dan inflasi tahun kalender 2,40 persen.

Tekanan harga masih berasal dari kelompok pangan dan transportasi. Kenaikan harga cabai merah disebut sebagai salah satu penyumbang utama inflasi Oktober 2026. Kondisi ini penting bagi masyarakat karena pangan merupakan komponen belanja rumah tangga yang paling sensitif terhadap perubahan harga.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa inflasi tahunan Oktober 2026 mencapai 3,23 persen. Ia menyampaikan hal tersebut dalam rilis resmi statistik yang diterbitkan BPS pada Senin, 2 November 2026.

Secara daerah, tekanan harga juga belum merata. CNBC Indonesia melaporkan inflasi tahunan Sulawesi Utara mencapai 8,07 persen pada Oktober 2026, jauh di atas inflasi nasional. Sementara itu, DKI Jakarta tercatat sebagai wilayah dengan inflasi terendah.

BI-Rate dan Sasaran Inflasi

Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Namun, bank sentral menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen untuk memperkuat daya tarik aset rupiah.

Langkah itu menunjukkan BI berupaya menyeimbangkan dua tujuan. Di satu sisi, suku bunga perlu mendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, kebijakan moneter juga harus menjaga nilai rupiah dan mengendalikan ekspektasi inflasi.

Menurut laporan Investor.id, sejumlah pelaku pasar memperkirakan BI dapat menaikkan BI-Rate 25 basis poin menjadi 6 persen pada November 2026. Prediksi tersebut muncul karena inflasi masih dekat batas atas sasaran dan rupiah menghadapi tekanan eksternal.

Ekonom Josua Pardede, seperti dikutip Kompas.com, memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp18.050–Rp18.250 per dolar AS pada perdagangan Senin. Ia menilai BI perlu menjaga intervensi secara terukur melalui pasar spot, DNDF, serta pengelolaan imbal hasil Surat Berharga Syariah Negara (SRBI).

Dampak bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha

Bagi masyarakat, inflasi pangan berarti daya beli dapat tertekan bila pendapatan tidak naik seiring harga kebutuhan pokok. Kenaikan harga cabai, bahan pangan, dan biaya transportasi dapat langsung terasa dalam pengeluaran harian keluarga.

Bagi pelaku usaha, pelemahan rupiah berpotensi menaikkan biaya impor bahan baku. Kondisi ini dapat berdampak pada harga barang jadi, terutama industri yang bergantung pada komponen atau bahan mentah dari luar negeri.

Namun, rupiah yang stabil tetap penting bagi eksportir dan sektor pariwisata. Nilai tukar yang kompetitif dapat membantu daya saing produk Indonesia, selama kenaikan biaya impor tidak terlalu besar.

Bank Indonesia kini menunggu perkembangan data inflasi, neraca dagang, dan pergerakan pasar global. Kombinasi inflasi 3,23 persen, rupiah di kisaran Rp18.156 per dolar AS, serta BI-Rate 5,75 persen menjadi dasar penting bagi keputusan kebijakan moneter berikutnya.