Hiburan

De Gaulle: Résistance, Epik Prancis Dipuji Kritikus Dunia

De Gaulle: Résistance
De Gaulle: Résistance

Film De Gaulle: Résistance, bagian pertama diptik La Bataille de Gaulle, menjalani pemutaran perdana dunia di Festival Film Cannes pada 20 Mei 2026. Karya sutradara Antonin Baudry ini mengangkat kisah Jenderal Charles de Gaulle di London dan perlawanan bawah tanah Prancis, lalu tayang di bioskop Prancis mulai 3 Juni 2026.

Sinema Prancis mengambil langkah berani lewat proyek dua bagian berjudul La Bataille de Gaulle. Pathé memproduksi diptik tersebut dengan anggaran sekitar €74 juta, atau kira-kira 80 juta dolar AS, untuk kedua film. Angka itu tergolong besar bagi industri film Eropa.

Antonin Baudry, mantan diplomat Prancis yang kini menjadi sineas, duduk di kursi sutradara. Ia menulis skenario bersama Bérénice Vila dan Julian T. Jackson. Naskahnya bersumber dari buku A Certain Idea of France karya Jackson.

Film berdurasi 160 menit ini sempat memakai subjudul Tilting Iron dan L'âge de fer di beberapa wilayah. Pemutaran perdana dunianya berlangsung di Festival Film Cannes pada 20 Mei 2026. Bioskop Prancis mulai menayangkannya pada 3 Juni 2026.

Volker Bertelmann menggarap musik film ini. Peraih Oscar lewat All Quiet on the Western Front itu bekerja bersama Pathé, TF1 Films Production, dan The Searchers.

Sinopsis: Jenderal Tanpa Pasukan di London

Cerita bermula pada Juni 1940. Militer Prancis runtuh, dan pemerintahnya memilih menandatangani gencatan senjata dengan Nazi Jerman. Di tengah keputusasaan itu, Jenderal Charles de Gaulle menolak menyerah.

De Gaulle pergi sendirian ke London. Ia tiba tanpa tentara, tanpa dukungan finansial, dan tanpa kepastian logistik. Di sana, ia harus meyakinkan Perdana Menteri Winston Churchill bahwa perang untuk Prancis belum berakhir.

Film membagi narasinya ke dalam dua jalur. Jalur pertama menyoroti diplomasi tingkat tinggi sang Jenderal di London. Sementara itu, gerakan bawah tanah di Prancis yang diduduki Nazi menjadi jalur kedua.

Fernand Bonnier de La Chapelle, siswa sekolah menengah yang nekat, memimpin sisi perlawanan anti-Vichy itu. Perlahan, mahasiswa pemberontak, tentara yang tersisa, dan warga dari Afrika hingga Eropa bersatu dalam gerakan Free France.

Barisan Pemeran dan Karakter Utama

Simon Abkarian memerankan De Gaulle, sedangkan Simon Russell Beale tampil sebagai Churchill. Florian Lesieur memainkan Fernand Bonnier de La Chapelle. Anamaria Vartolomei berperan sebagai Livia, dan Niels Schneider sebagai Philippe Leclerc.

Karim Leklou hadir sebagai Blazej, ajudan Polandia. Mathieu Kassovitz mengisi karakter pendukung. Susunan pemeran ini membuat kisah sejarah terasa lebih personal.

Ulasan Kritikus: Konvensional tetapi Memikat

Media internasional menyambut film ini dengan hangat. Tomris Laffly dari Variety menyebut karya Baudry sebagai biopik masa perang yang konvensional, tetapi "secara konsisten sangat memikat". Ia juga menilai Abkarian tampil meyakinkan sebagai De Gaulle yang patriotik.

Dikutip dari redaksi The Times Ulasanya menyebut film ini hal baru: produksi berbujet besar tentang Perang Dunia II dari sudut pandang Prancis. Danny Leigh dari The Guardian menyebutnya "sangat menyenangkan" dan bergerak cepat, dengan humor yang tenang namun simpatik.

Menurut Cineuropa menilai Baudry menciptakan keseimbangan yang unik. Sang sutradara memanusiakan sekaligus memuliakan De Gaulle. Film ini juga menolak psikologisasi dan menampilkan sang Jenderal langsung dalam aksi serta keraguan yang ia pendam.FILM De Gaulle: Résistance

Sukses Komersial Lewat Promosi dari Mulut ke Mulut

Awal penayangan film ini cukup lambat. Namun, jumlah penonton melonjak selama musim panas berkat promosi dari mulut ke mulut. Hingga Agustus 2026, gabungan kedua bagian itu menjual lebih dari 5 juta tiket di Prancis. Bagian kedua berjudul De Gaulle: Liberté.

Capaian tersebut menunjukkan antusiasme penonton Prancis terhadap sejarah nasional yang digarap dengan skala besar. Free France, gerakan yang dipimpin De Gaulle, menjadi simbol perlawanan terhadap pendudukan Nazi. Film ini mengangkat kembali memori itu bagi generasi baru.

Relevansi bagi Penonton Indonesia

Bagi penonton Indonesia, film ini menawarkan sudut pandang berbeda tentang Perang Dunia II. Selama ini, banyak film perang hadir lewat kacamata Hollywood. Kisah dari sisi Prancis membuka ruang diskusi tentang kepemimpinan, keberanian menolak menyerah, dan harga sebuah kemerdekaan.

Secara keseluruhan, De Gaulle: Résistance memadukan ambisi produksi besar dengan kisah sejarah yang humanis. Dukungan kritikus dan lonjakan penonton menunjukkan proyek senilai €74 juta ini berhasil menarik perhatian publik. Kisah lengkap sang Jenderal kini dapat dinikmati lewat kedua bagian diptik tersebut.