Pemprov DKI Jakarta membuka peluang kolaborasi untuk membangun perguruan tinggi Jakarta yang lebih banyak dan berkualitas. Gubernur Pramono Anung menyebut keberadaan kampus sangat menentukan arah Jakarta sebagai kota global.
Pramono menyampaikan hal itu pada Kamis (15/10/2026). Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus memberi kemudahan perizinan bagi pihak yang ingin mendirikan kampus di ibu kota.
Pemprov DKI Buka Ruang Kolaborasi Kampus
Menurut Pramono, Jakarta membutuhkan banyak universitas dengan fasilitas yang baik. Tanpa itu, cita-cita menjadi kota global sulit tercapai. Universitas yang kuat melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Lulusan tersebut kemudian ikut berkontribusi dalam pembangunan Jakarta.
Pemprov DKI pun membuka ruang bagi siapa pun yang mau berkolaborasi. Gubernur menjelaskan, tingginya kebutuhan dan laju pembangunan di ibu kota menjadi dasar sikap tersebut.
"Karena kebutuhan dan juga karena pembangunan yang ada relatif apa, tinggi, sehingga dengan demikian, kalau bisa berkolaborasi, kami membuka ruang untuk itu, berkolaborasi membuat perguruan tinggi di Jakarta," kata dia.
Harga Tanah Jadi Kendala Perguruan Tinggi Jakarta
Pembangunan kampus baru di ibu kota kerap terbentur harga tanah yang tinggi. Kondisi itu membuat penyelenggara pendidikan berpikir panjang sebelum membuka kampus di Jakarta. Kemudahan izin saja belum cukup menjawab persoalan tersebut. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah daerah menjadi jalan keluar yang ditawarkan Pemprov DKI.
Bagi warga, tambahan kampus berarti lebih banyak pilihan studi di dekat rumah. Biaya tinggal dan transportasi pun berpotensi lebih ringan bagi keluarga yang tidak ingin anaknya merantau.
Program LPDP Jakarta dan Kampus Luar Negeri
Selain mendorong pembangunan kampus, Pemprov DKI menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi internasional. Kerja sama itu berjalan lewat program LPDP Jakarta. Sekitar 75 mahasiswa akan mendapat beasiswa S2 dan S3 di luar negeri.
"Beberapa perguruan tinggi yang akan membuka diri untuk bisa bekerjasama dengan DKI, salah satu contohnya adalah New York University, Columbia, kemudian juga dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Inggris, di Australia, dan sebagainya," ujar dia.
Daftar tersebut mencakup kampus di Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Pramono menyebut sejumlah perguruan tinggi itu sudah menyatakan kesiapan bekerja sama.
Beasiswa Tak Hanya untuk Sains dan Teknologi
Pramono berharap warga ibu kota memanfaatkan program ini sebaik-baiknya. Peluang tersebut terbuka bagi berbagai keahlian, bukan hanya sains dan teknologi.
"Memang detailnya ada, tapi saya juga pengin anak-anak yang belajar di luar itu tidak hanya belajar yang bersifat apa, sains dan teknologi. Bahkan, saya juga memberikan kesempatan untuk mereka belajar tentang menjadi chef, kemudian apa hal-hal berkaitan dengan kreator desain dan sebagainya," ujar Pramono.
Pernyataan itu menunjukkan Pemprov DKI memandang SDM kota global sebagai paduan banyak bidang, termasuk industri kreatif dan kuliner.
Secara keseluruhan, Pemprov DKI menempuh dua jalur untuk memperkuat pendidikan tinggi. Jalur pertama membuka kolaborasi pembangunan kampus di Jakarta, sedangkan jalur kedua mengirim warga belajar ke kampus ternama dunia. Tantangan harga tanah masih menunggu solusi, tetapi pintu kerja sama kini terbuka lebar bagi pihak yang berminat.