Regional

Uji Coba Penerbangan Jakarta-Tasikmalaya Berhasil Digelar

penerbangan Jakarta-Tasikmalaya
penerbangan Jakarta-Tasikmalaya

Uji coba penerbangan Jakarta-Tasikmalaya menggunakan pesawat Rimbun Air berhasil mendarat di Bandara Wiriadinata pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Langkah ini membuka harapan baru konektivitas udara Priangan Timur setelah bertahun-tahun vakum.

Bandara Wiriadinata Kota Tasikmalaya kembali mencatatkan aktivitas penerbangan setelah lama sepi. Pesawat ATR 72 milik Rimbun Air mendarat mulus dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta membawa sejumlah pejabat pusat dan daerah. Kehadiran pesawat tersebut menjadi momen penting bagi warga Priangan Timur yang selama ini mengandalkan perjalanan darat berjam-jam.

Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan menyambut rombongan di landasan. Ia menegaskan bahwa uji coba ini merupakan langkah awal serius untuk menghidupkan kembali jalur udara. “Alhamdulillah uji coba penerbangan perdana pesawat Rimbun Air berjalan dengan baik dan lancar, dan ini menjadi langkah awal untuk mereaktivasi kembali jalur transportasi udara di Bandara Wiriadinata Tasikmalaya,” ujar Viman di lokasi, Sabtu tersebut.

Latar Belakang Reaktivasi Bandara Wiriadinata

Bandara yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 27 Februari 2019 sempat beberapa kali dicoba dioperasikan. Upaya terakhir bersama Citilink pada 2023 hanya bertahan beberapa hari sebelum kembali mati suri. Faktor utama yang menghambat adalah minimnya penumpang dan belum matangnya kajian pasar.

Kali ini pendekatan berbeda diambil. Pemerintah Kota Tasikmalaya bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan sejumlah pejabat pusat melakukan uji coba bersama maskapai Rimbun Air. Pesawat jenis ATR 72-600 atau 72-700 dipilih karena cocok untuk rute pendek dan kondisi landasan yang ada. Durasi penerbangan hanya sekitar 45 menit, jauh lebih cepat dibanding perjalanan darat yang memakan waktu enam hingga tujuh jam.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut hadir dalam penerbangan tersebut. Ia berharap rute ini tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi di Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, hingga Pangandaran. Dukungan Wakil Jaksa Agung RI Asep Nana Mulyana juga disebut berperan penting dalam memuluskan akses.

Manfaat bagi Masyarakat dan Ekonomi Daerah

Kehadiran rute penerbangan Jakarta-Tasikmalaya diharapkan memberi dampak langsung. Warga yang selama ini harus menempuh perjalanan melelahkan kini punya pilihan lebih cepat. Pelaku usaha, wisatawan, dan diaspora asal Tasikmalaya di Jabodetabek akan lebih mudah bolak-balik.

Viman menekankan potensi pariwisata dan investasi. Ia membandingkan posisi Tasikmalaya dengan Solo di Jawa Tengah yang sudah lebih maju berkat konektivitas. “Aktifnya kembali penerbangan pesawat di Bandara Wiriadinata tidak hanya akan mempercepat akses dari dan ke Kota Tasikmalaya, tetapi bagaimana jalur transportasi udara ini akan meningkatkan kunjungan orang ke Tasikmalaya, menumbuhkan ekonomi daerah, membuka investasi, serta mendorong geliat sektor pariwisata di Kota Tasikmalaya dan Priangan Timur secara luas,” paparnya.

Pihak bandara dan maskapai sudah melakukan pengecekan fasilitas. Landasan pacu, terminal, navigasi, hingga sistem keamanan dinyatakan memenuhi standar keselamatan penerbangan. Proses perizinan untuk layanan reguler sedang digodok melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Tantangan yang Masih Harus Dihadapi

Meski uji coba berjalan lancar, sejumlah pihak mengingatkan agar tidak terburu-buru. Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya sebelumnya sempat meminta kajian mendalam agar penerbangan tidak hanya berhenti di tahap perdana. Pengalaman gagal di masa lalu menjadi pelajaran berharga.

Pemerintah daerah saat ini masih mematangkan analisis pasar, penentuan jadwal, dan skema tarif. Target awal adalah melayani hari-hari dengan potensi penumpang tinggi seperti Jumat, Sabtu, dan Minggu. Estimasi tarif sebelumnya sempat disebut berada di kisaran Rp900 ribuan, namun angka final masih dibahas agar tetap terjangkau masyarakat.

Keberhasilan rute ini sangat bergantung pada dukungan warga. Jika penumpang cukup, maskapai akan lebih percaya diri membuka jadwal reguler. Sebaliknya, jika okupansi rendah, risiko mati suri kembali mengintai.

Hingga Senin, 2 November 2026, belum ada pengumuman resmi mengenai jadwal penerbangan komersial. Namun semangat dari pemerintah daerah, provinsi, dan pusat terlihat serius. Uji coba 31 Oktober 2026 menjadi titik balik yang ditunggu lama oleh warga Priangan Timur.

Dengan konektivitas udara yang lebih baik, Tasikmalaya berpeluang memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan di kawasan timur Jawa Barat. Perjalanan yang selama ini panjang kini bisa dipersingkat, membuka ruang lebih lebar bagi ekonomi, pariwisata, dan interaksi sosial antarwilayah.