Pasar global menunggu keputusan suku bunga The Fed pada 28 Oktober 2026 yang diperkirakan ditahan di kisaran 3,75-4,00 persen. Proyeksi ini memberi tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah, seiring penguatan dolar AS dan potensi aliran modal keluar.
Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve dijadwalkan mengumumkan hasil rapat kebijakan moneter dua hariannya pada Rabu, 28 Oktober 2026. Mayoritas ekonom dan pelaku pasar memproyeksikan suku bunga acuan tetap di level 3,75 hingga 4,00 persen. Keputusan ini datang setelah kenaikan 25 basis poin pada September lalu.
Menurut data CME FedWatch, peluang penahanan suku bunga mencapai sekitar 90 persen. Fokus pasar kini bergeser ke kemungkinan kenaikan lagi pada Desember 2026. Inflasi AS yang masih tinggi dan data ekonomi yang tangguh menjadi alasan utama The Fed menjaga opsi pengetatan.
Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya menekankan pentingnya kesabaran dalam menilai data inflasi terbaru. Ia menyatakan bahwa tekanan harga masih luas dan persisten di berbagai kategori. Pernyataan itu memperkuat ekspektasi bahwa jeda Oktober bersifat sementara.
Dampak Suku Bunga The Fed terhadap Aliran Modal Global
Kebijakan suku bunga The Fed memengaruhi arah aliran dana investor internasional. Ketika suku bunga AS tetap tinggi atau berpotensi naik, aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik. Investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang untuk mencari imbal hasil lebih aman di Amerika Serikat.
Akibatnya, mata uang emerging markets mengalami pelemahan. Indeks dolar AS atau DXY menguat menjelang pengumuman. Penguatan ini langsung menekan nilai tukar di Asia dan Amerika Latin. Rupiah, misalnya, sempat menyentuh level di atas Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan 27-28 Oktober 2026.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS akibat antisipasi sikap hawkish The Fed. "FOMC sangat diantisipasi dan berpengaruh besar, saat ini investor mengantisipasi the Fed untuk menahan suku bunga namun mensinyalkan kenaikan kedepannya dan bernada hawkish," kata Lukman.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan net sell asing di pasar saham Indonesia mencapai Rp94,87 triliun sepanjang awal Januari hingga 23 Oktober 2026. Tekanan serupa juga terlihat di pasar obligasi dan valas. Pelemahan mata uang memperberat beban utang berdenominasi dolar bagi perusahaan dan pemerintah di kawasan emerging.
Proyeksi Ekonomi Global dan Risiko bagi Emerging Markets
Laporan Reuters mencatat bahwa The Fed diperkirakan masuk mode wait-and-see setelah menaikkan suku bunga bulan lalu. Namun, pejabat bank sentral tetap membuka ruang untuk kenaikan tambahan jika inflasi tidak mereda. Hampir seluruh ekonom yang disurvei memperkirakan kenaikan pada Desember.
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian bagi negara berkembang. Bank sentral di emerging markets harus menyeimbangkan antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan domestik. Beberapa negara sudah menaikkan suku bunga lebih dulu untuk mengantisipasi tekanan dari AS.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai, kenaikan suku bunga The Fed dapat mempersempit selisih suku bunga Indonesia dengan Amerika Serikat. Hal itu berpotensi mengurangi daya tarik relatif aset rupiah. Investor juga mempertimbangkan risiko nilai tukar dan ketidakpastian pasar modal.
Selain faktor suku bunga, harga minyak yang tinggi akibat ketegangan geopolitik menambah tekanan inflasi global. Emerging markets yang bergantung pada impor energi menghadapi risiko ganda. Pelemahan mata uang membuat harga barang impor lebih mahal, yang kemudian mendorong inflasi domestik.
Respons Pasar dan Langkah Antisipasi
IHSG sempat anjlok 1,99 persen ke level 5.266,13 pada 27 Oktober 2026. Penurunan itu antara lain dipicu kekhawatiran terhadap arah kebijakan The Fed dan pelemahan rupiah. Investor asing terus melakukan aksi jual di pasar saham reguler.
Bank Indonesia diperkirakan tetap waspada. Otoritas moneter Indonesia telah menjaga suku bunga acuan di level yang relatif tinggi untuk mempertahankan daya tarik aset dalam negeri. Intervensi valas juga menjadi salah satu instrumen untuk meredam volatilitas rupiah.
Analis pasar global menekankan bahwa dampak kebijakan The Fed tidak selalu seragam di seluruh emerging markets. Negara dengan fundamental kuat, cadangan devisa memadai, dan inflasi terkendali cenderung lebih tahan. Sebaliknya, negara dengan defisit transaksi berjalan lebar dan utang luar negeri tinggi lebih rentan.
Proyeksi ekonomi global masih menunjukkan pertumbuhan yang tidak merata. Amerika Serikat menikmati konsumsi yang cukup kuat dan investasi terkait kecerdasan buatan. Sementara banyak emerging markets menghadapi tantangan dari pelemahan mata uang dan biaya pinjaman yang lebih tinggi.
Keputusan The Fed pada akhir Oktober 2026 menjadi penanda penting bagi arah pasar keuangan hingga akhir tahun. Jika bank sentral AS tetap hawkish meski menahan suku bunga, tekanan terhadap mata uang emerging markets berpotensi berlanjut. Sebaliknya, nada yang lebih akomodatif dapat memberi ruang bagi penguatan terbatas di kawasan berkembang.
Pelaku pasar akan mencermati konferensi pers Kevin Warsh setelah pengumuman resmi. Isyarat mengenai jalur suku bunga ke depan, terutama kemungkinan kenaikan Desember, akan menjadi penentu sentimen jangka pendek. Bagi Indonesia dan negara tetangga, menjaga stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama di tengah dinamika moneter global ini.