Internasional

Hasil Pemilu Israel: Netanyahu 54 Kursi, Eisenkot 49 Kursi

hasil pemilu Israel
hasil pemilu Israel

Hasil pemilu Israel pada Selasa (27/10/2026) belum menghadirkan pemenang mayoritas, karena blok Netanyahu baru meraih 54 kursi dan blok Gadi Eisenkot 49 kursi. Kedua kubu masih jauh dari ambang 61 kursi di Knesset, sehingga pembentukan pemerintahan Israel berpotensi berlangsung berminggu-minggu.

Komisi Pemilihan Pusat Israel merilis hitung resmi secara bertahap sejak Selasa (27/10/2026) malam. Menurut Times of Israel, 84,5 persen kotak suara sudah terhitung pada pukul 12.34 waktu setempat. Saat itu, blok pendukung Netanyahu menguasai 54 kursi dan blok pimpinan Eisenkot meraih 49 kursi. Partai-partai Arab, yakni Joint List dan Ra'am, mengantongi 17 kursi di luar kedua kubu.

Hasil Pemilu Israel: Angka Kunci Hitung Sementara

Angka tersebut menempatkan Israel pada jalan buntu. Mayoritas pemerintahan membutuhkan 61 dari 120 kursi Knesset. Blok Netanyahu masih kurang tujuh kursi dari ambang itu, sedangkan blok Eisenkot tertinggal lebih jauh.

Ynet melaporkan Likud tetap menjadi partai terbesar dengan 27 kursi. Yashar, partai tengah pimpinan Eisenkot, menyusul dengan 21 hingga 22 kursi sesuai pembaruan. Beyachad milik mantan Perdana Menteri Naftali Bennett memperoleh sekitar 12 kursi, dan Joint List meraih 11 kursi.

  • Blok Netanyahu: 54 kursi
  • Blok Eisenkot: 49 kursi
  • Partai-partai Arab: 17 kursi
  • Ambang mayoritas: 61 dari 120 kursi

Posisi kedua blok bergeser tipis selama penghitungan. Ynet mencatat Yashar menambah dua kursi dari Joint List, sehingga blok Eisenkot naik dari 47 ke 49 kursi. Hasil final diperkirakan keluar dalam beberapa hari.

Catatan data: seluruh angka di atas merujuk pembaruan Rabu (28/10/2026) siang waktu Israel dan berpotensi berubah.

Exit Poll Sempat Mengunggulkan Eisenkot

Gambaran awal berbeda dengan hitung resmi. Setelah TPS ditutup pada Selasa malam, exit poll sejumlah media Israel menunjukkan blok Eisenkot unggul tipis, 53-50 atau 52-50. Eisenkot pun mengklaim kemenangan. Ia menilai hasil itu mencerminkan “kurangnya kepercayaan warga sepenuhnya terhadap Netanyahu dan pemerintahan 7 Oktober”, sebagaimana dikutip AFP.

Hitung langsung kemudian bergerak ke arah berbeda. Pada Rabu pagi, pembaruan exit poll Channel 11 dan Channel 13 menempatkan kedua kubu sama kuat dengan 51 kursi. Channel 12 masih mengunggulkan Eisenkot, menurut laporan CNN Indonesia yang merujuk AFP. Seorang menteri luar negeri Israel dari Likud menilai perayaan oposisi terlalu dini.

Netanyahu akhirnya tampil dengan nada percaya diri. Menurut CNN, ia mengklaim kubunya unggul di kalangan pemilih Zionis dan Yahudi, lalu berterima kasih kepada Presiden AS Donald Trump. Eisenkot membalas bahwa “publik telah memilih perubahan” dan menyebut koalisi lawannya telah kehilangan kepercayaan rakyat.

Siapa Gadi Eisenkot, Penantang Utama Netanyahu?

Gadi Eisenkot lahir pada 1960 di Tiberias, Israel utara. Ia meniti karier panjang di militer, termasuk di Brigade Golani. Eisenkot menjabat Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF) ke-21 pada 2015 hingga 2019. Pada 2023–2024, ia menjadi menteri tanpa portofolio di pemerintahan persatuan.

Kini ia memimpin Yashar, partai berhaluan tengah, sebagaimana diberitakan Kompas. Menurut catatan Wikipedia, Eisenkot mengusung negara berakar nilai nasional Yahudi dengan hak setara bagi seluruh warga. Ia juga menilai polarisasi di dalam negeri sebagai ancaman bagi Israel.

Dampak Hasil Pemilu Israel bagi Pasar dan Koalisi

Pasar bereaksi cepat terhadap kebuntuan ini. CNBC melaporkan obligasi dan shekel Israel melemah pada Rabu karena tidak ada pemenang yang jelas. Pelemahan itu mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar atas ketidakpastian politik.

Di sisi lain, Eisenkot mengklaim hak pertama untuk mencoba membentuk pemerintahan, menurut CNBC. Secara hitungan, gabungan blok Eisenkot dan partai-partai Arab mencapai 66 kursi. Namun, angka itu belum otomatis berarti koalisi, sebab kesepakatan politik masih harus dirundingkan.

Israel berpotensi tetap dipimpin pemerintahan sementara selama negosiasi koalisi, menurut Ynet. Presiden Isaac Herzog memegang peran penting dalam proses itu, karena presiden Israel biasanya mengundang pemimpin partai untuk menyusun koalisi. Bagi pembaca di Indonesia, hasil ini relevan karena arah pemerintahan Israel berkaitan dengan kebijakan terhadap Gaza dan stabilitas Timur Tengah.

Menanti Hasil Akhir Pemilu Israel

Hasil pemilu Israel sementara menunjukkan tidak ada kubu yang menguasai mayoritas parlemen. Blok Netanyahu memimpin dengan 54 kursi, tetapi blok Eisenkot tertinggal lima kursi saja. Perebutan kekuasaan kini bergeser ke meja negosiasi, dan proses itu diperkirakan memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, menurut AFP. Publik masih perlu menunggu angka resmi final dari Komisi Pemilihan Pusat.