Internasional

Demonstrasi Prancis Meluas, Pelajar dan Rompi Kuning Turun

demonstrasi Prancis
demonstrasi Prancis

Ratusan ribu orang turun ke jalan dalam demonstrasi Prancis di Paris dan sejumlah kota lain pada Sabtu (17/10/2026), menuntut reformasi pendidikan serta biaya hidup yang lebih terjangkau. Aksi yang menyatukan pelajar, guru, serikat pekerja, dan sisa kelompok rompi kuning itu juga diwarnai gas air mata, penjarahan, dan pembakaran kantor pariwisata di Lyon.

Aljazeera melaporkan, Marianne, patung simbol Republik Prancis di Place de la République, Paris, tampil mengenakan rompi kuning pada hari aksi. Wajah tiga sosok alegoris di dasar monumen itu, yang melambangkan Kebebasan, Kesetaraan, dan Persaudaraan, dihiasi guratan air mata hitam. Sementara itu, tabung gas air mata melesat di udara dan memenuhi alun-alun dengan asap.

Place de la République punya makna khusus bagi warga Paris. Alun-alun itu kerap menjadi titik kumpul unjuk rasa besar di ibu kota. Pilihan lokasi itu sarat simbol, terlebih patung Marianne mengenakan rompi kuning.

Peserta aksi sebagian besar berusia muda. Mereka berkumpul di jantung ibu kota dalam babak terbaru gerakan yang mengguncang Prancis selama lebih dari sebulan terakhir. Menurut AFP, sekelompok orang menjarah toko produk perawatan kulit dekat Place de la République dan melempar barang dagangan ke jalan. Toko ponsel di sekitar lokasi juga menjadi sasaran.

Dari Blokade Sekolah hingga Gelombang Protes

Gerakan ini bermula dari para pelajar yang menuntut reformasi pendidikan. Getty Images mencatat, aksi berawal pada akhir September 2026 sebagai blokade damai di Seine-Saint-Denis, kawasan berpenghasilan rendah di pinggiran Paris. Pada 1 Oktober, pelajar bentrok dengan polisi di Aubervilliers dan membakar sejumlah benda di jalan.

Sekolah menjadi pemicu awal, tetapi akar persoalan lebih dalam. Para pelajar menyoroti turunnya standar pendidikan, sementara kelompok lain menyoroti meningkatnya biaya hidup. Dua keresahan itu bertemu di jalan dan membentuk gelombang protes yang terus membesar selama lebih dari sebulan.

Dalam waktu singkat, tuntutan itu melebar. Demonstran kini menyuarakan kemarahan atas buruknya layanan publik, naiknya biaya hidup, dan masa depan yang terasa kian sulit dijangkau. Seorang siswi SMA yang identitasnya dirahasiakan mengangkat kepalan tangan sambil berseru.

"Semua orang berkumpul untuk meminta pemerintah kali ini dengan tegas agar benar-benar mendengarkan kami, karena apa yang terjadi saat ini sungguh tidak bisa dibiarkan," ujarnya.

Dukungan Lintas Kelas dan Sektor Pekerjaan

Sebagian pihak menyebut gerakan sosial ini sebagai peristiwa bersejarah. Dukungan datang dari berbagai kelas dan sektor pekerjaan, sehingga aksi tidak lagi menjadi urusan pelajar semata. Massa juga mencakup sisa-sisa kelompok rompi kuning, gerakan akar rumput yang memprotes biaya hidup dan mengguncang Prancis pada 2018.

Gerakan rompi kuning sendiri lahir pada November 2018. Kontan mencatat protes itu dipicu rencana kenaikan pajak bahan bakar dan dinamai sesuai jaket fluoresens wajib bagi pengendara Prancis. Sejak itu, simbol rompi kuning identik dengan keluhan warga biasa soal beban hidup.

Pada Sabtu, perawat, pengacara hak asasi manusia, petugas pemadam kebakaran, orang tua, dan guru ikut turun ke jalan. Sejumlah unsur rompi kuning turut hadir. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pelajar telah memicu ketidakpuasan sosial yang mengakar di seluruh lapisan masyarakat Prancis.

Kantor Pariwisata Lyon Terbakar di Tengah Protes

Di tengah gelombang protes besar yang melanda Prancis, sebuah kantor pariwisata dibakar di Lyon. Laporan yang tersedia belum merinci kerugian ataupun pihak yang bertanggung jawab.

Bagi pembaca di Indonesia, peristiwa ini menunjukkan bagaimana isu pendidikan dan biaya hidup dapat menyulut ketidakpuasan luas. Getty Images menilai gerakan yang berawal dari blokade sekolah itu kini menjadi krisis ketertiban umum bagi pemerintahan Presiden Emmanuel Macron.

Arah Demonstrasi Prancis ke Depan

Ke depan, banyak pihak menanti langkah pemerintah menanggapi tuntutan reformasi pendidikan. Selain itu, muncul pertanyaan apakah aksi tetap berlangsung damai atau kembali diwarnai penjarahan dan pembakaran. Perkembangan ini penting bagi Prancis yang masih menghadapi tekanan biaya hidup.

Secara keseluruhan, demonstrasi Prancis kali ini berkembang dari protes pelajar menjadi gerakan lintas lapisan. Tuntutan reformasi pendidikan kini berpadu dengan keresahan soal layanan publik dan biaya hidup. Arah gerakan sangat bergantung pada respons pemerintah terhadap tuntutan massa.