Empat pelatih telah dicopot sejak awal Super League 2026/2027. Tekanan hasil membuat Persijap Jepara, PSIM Yogyakarta, dan Arema FC melakukan perubahan di kursi kepelatihan hingga pekan keenam.
Persaingan Super League 2026/2027 terbukti sangat ketat sejak pekan perdana. Hingga pekan keenam yang berakhir Jumat (23/10/2026), empat pelatih sudah kehilangan jabatan akibat hasil tim yang tidak sesuai target manajemen.
Pergantian juru taktik terjadi di Persijap Jepara, PSIM Yogyakarta, dan Arema FC. Ketiga klub tersebut mengambil keputusan ketat setelah penampilan anak asuhnya terus menurun sepanjang kompetisi berjalan.
Persijap Paling Sering Berganti Pelatih
Persijap Jepara menjadi klub dengan dinamika kepelatihan paling mencolok. Laskar Kalinyamat belum mampu meraih satu poin dari enam laga awal setelah selalu kalah di Super League 2026/2027.
Juan Cortes menjadi pelatih pertama yang dicopot pada 14 September 2026. Posisinya kemudian diisi Mario Lemos, tetapi perubahan tersebut tidak langsung memperbaiki performa tim.
Setelah Persijap kembali menelan dua kekalahan beruntun, Mario Lemos pun meninggalkan klub. Antonio Claudio sempat ditunjuk sebagai caretaker sebelum manajemen memanggil kembali Juan Cortes pada Rabu (21/10/2026).
Langkah itu menunjukkan bahwa Persijap berharap pengalaman Cortes dapat membangun ulang kepercayaan diri pemain. Klub Jepara tersebut membutuhkan hasil segera agar tidak semakin tertinggal di klasemen.
PSIM Putus Kerja Sama van Gastel
Situasi serupa dialami PSIM Yogyakarta. Laskar Mataram mengakhiri kerja sama dengan pelatih asal Belanda, Jean-Paul van Gastel, pada 17 Oktober 2026.
Keputusan itu diambil setelah PSIM hanya mengumpulkan satu poin pada laga pembuka. Tim berjuluk Laskar Mataram itu kemudian menelan lima kekalahan beruntun.
Hasil tersebut membuat manajemen menilai perubahan arah taktis dan suasana ruang ganti perlu segera dilakukan. Pergantian pelatih menjadi jalan yang dipilih untuk menghentikan tren negatif tim.
Arema FC Pecat Marcos Santos
Pelatih terbaru yang kehilangan pekerjaan adalah Marcos Santos. Arema FC resmi mengakhiri kerja sama dengan pelatih asal Brasil itu pada Jumat (23/10/2026).
Keputusan tersebut menyusul kekalahan telak Singo Edan 1-5 dari Persija Jakarta pada Rabu (21/10/2026) di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi. Arema juga tidak mampu menang dalam lima pertandingan terakhir.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menyatakan keputusan itu diambil setelah evaluasi menyeluruh. Ia menegaskan perpisahan dilakukan secara profesional demi kebaikan tim.
“Manajemen memutuskan untuk mengistirahatkan sekaligus mengakhiri kerja sama secara profesional demi kebaikan bersama,” kata Yusrinal Fitriandi dalam keterangan resmi yang dilansir ANTARA, Jumat (23/10/2026).
Yusrinal menambahkan bahwa lima laga tanpa kemenangan menjadi indikator penting. Menurutnya, Arema membutuhkan momentum serta ruang pembenahan baru agar dapat bangkit di sisa kompetisi.
“Namun, lima laga tanpa kemenangan menjadi indikator penting bahwa tim butuh momentum dan ruang refreshment baru,” ujarnya.
Andre Caldas Jadi Penjaga Transisi
Untuk menjaga persiapan tim, Arema FC menunjuk Andre Caldas sebagai pelatih interim. Pelatih berlisensi A Pro tersebut merupakan asisten pelatih yang sudah mengenal kondisi internal klub.
Andre akan memimpin sesi latihan dan persiapan Singo Edan menjelang laga melawan Dewa United. Pertandingan tersebut dijadwalkan berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Minggu (25/10/2026).
Manajemen Arema menyatakan masih memproses penunjukan pelatih kepala definitif. Klub berharap sosok baru mampu mengantar tim kembali bersaing di papan atas klasemen.
“Untuk memastikan persiapan tim tidak terganggu jelang laga kandang melawan Dewa United, kami menunjuk Andre Caldas sebagai pelatih interim,” kata Yusrinal.
Tekanan Hasil Meningkat
Rangkaian pergantian pelatih ini memperlihatkan tingginya tuntutan hasil di Super League 2026/2027. Manajemen klub tidak lagi memiliki ruang waktu panjang untuk memperbaiki tren negatif.
Bagi pelatih, pekan keenam sudah menjadi momen penentu untuk menunjukkan arah permainan dan hasil. Sementara bagi klub, keputusan cepat dianggap sebagai upaya menyelamatkan musim sebelum jarak poin semakin lebar.
Kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa kompetisi domestik Indonesia kini berjalan dengan standar kompetitif yang tinggi. Hasil buruk dalam beberapa laga saja dapat langsung mengubah posisi seorang pelatih.
Ke depan, fokus Persijap, PSIM, dan Arema adalah memastikan pergantian pelatih benar-benar membawa perbaikan. Keberhasilan tim baru akan diukur dari konsistensi hasil, bukan sekadar perubahan nama di kursi kepelatihan.