PT PLN (Persero) menandatangani nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama dengan lebih dari 40 entitas lintas sektor pada Kamis (22/10/2026). Kolaborasi PLN berlangsung dalam Green Energy Partnership Summit 2026 di Jakarta untuk memperkuat elektrifikasi hunian, kendaraan listrik, dan energi hijau.
Penandatanganan itu melibatkan unsur pemerintah, asosiasi pengembang perumahan, dan produsen peralatan listrik. Mitra Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta pelanggan strategis menandatangani dokumen kerja sama. Berdasarkan keterangan resmi PLN, inisiatif ini mendukung upaya pemerintah memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan energi domestik.
Kolaborasi PLN Disambut Pemerintah
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyambut baik langkah tersebut. Ia menilai kolaborasi PLN bersama para mitra mendorong pemanfaatan energi yang lebih efisien.
"Apa yang sudah di-create oleh tim PLN saya sangat mengapresiasi, karena sudah banyak sekali energi baru terbarukan yang sudah dimasukkan dalam perencanaan ke depan," ujar Eniya.
Menurut Eniya, pengelolaan energi perlu berjalan cerdas, termasuk lewat pemilihan peralatan listrik hemat energi di tingkat rumah tangga. Ia lalu menyoroti peluang kompor listrik untuk menekan ketergantungan pada energi impor, terutama di rumah tangga nonsubsidi.
"Penggunaan kompor listrik ini akan sangat menguntungkan kita di rumah tangga. Kita masih bergantung pada LPG (Liquefied Petroleum Gas), sementara sekitar 80 persen LPG kita impor. Jadi, untuk sektor konsumsi nonsubsidi, kita ingin mengarahkannya ke penggunaan kompor listrik," kata Eniya.
Asta Cita dan Swasembada Energi Jadi Landasan
Wakil Direktur Utama PLN Yusuf Didi Setiarto menegaskan bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi langkah penting. Langkah itu memperluas pemanfaatan energi listrik ramah lingkungan di berbagai sektor. PLN menempatkannya sebagai dukungan terhadap agenda Asta Cita pemerintah, khususnya swasembada energi dan pengurangan energi impor.
"Asta Cita menempatkan swasembada energi sebagai salah satu fondasi kemandirian bangsa. PLN menerjemahkan arahan itu menjadi langkah konkret dengan mendorong rumah tangga beralih ke energi listrik, memperluas ekosistem kendaraan listrik, dan membuka akses energi hijau bagi industri. Setiap langkah ini mengurangi ketergantungan kita pada energi impor," ujar Didi.
Didi juga menekankan bahwa PLN tidak bisa bekerja sendirian. Pemerintah, pengembang perumahan, produsen peralatan, mitra SPKLU, dan pengembang fotovoltaik (PV) harus terlibat.
"Langkah kolaborasi ini tidak bisa dikerjakan PLN sendirian. Pengembang membangun rumahnya, produsen menyediakan peralatannya, mitra SPKLU memperluas jaringan pengisian, dan PV developer berkolaborasi menyediakan PLTS. Peran PLN adalah memastikan seluruh ekosistem ini terhubung dalam satu jaringan yang andal," tegasnya.
PLN Bergeser dari Penyedia Listrik ke Mitra Solusi
Direktur Retail dan Niaga PLN M. Fahrur Rozy menjelaskan arah transformasi perusahaan. Layanan terintegrasi PLN kini mencakup hunian, transportasi, bangunan komersial, dan kawasan industri.
"PLN sedang bertransformasi dari electricity provider menjadi energy solutions partner. Kami tidak hanya menjual kilowatt-jam, tetapi menghadirkan solusi energi yang terintegrasi, dari rumah, jalan raya, atap gedung, hingga kawasan industri," ujar Rozy.
Empat Solusi Utama untuk Pelanggan
Dalam forum itu, PLN memperkenalkan empat solusi yang dikembangkan bersama mitra strategis. Pertama, Eco Grid Living, ekosistem hunian full-electric dengan tiga paket. Eco Cooking melayani pengguna kompor listrik, Eco Charging menyiapkan infrastruktur Home Charging Services (EV Ready), dan Eco Living menggabungkan keduanya.
Kedua, My eStove menawarkan paket penyambungan listrik baru atau tambah daya beserta kompor listrik. Pelanggan dapat mengajukannya lewat aplikasi PLN Mobile mulai 27 Oktober 2026. Ketiga, PLN memperluas ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi dengan PLN Mobile. Hingga September 2026, perusahaan mencatat 5.120 SPKLU dan 103.116 home charger.
Keempat, Solar as a Total Solution menghadirkan layanan PLTS atap lewat platform PLN for Business. Pelanggan bisa memilih skema Solar as a Service tanpa investasi awal atau direct purchase.
Menanti Manfaat Nyata di Lapangan
Rozy berharap kesepakatan itu segera terasa oleh pelanggan.
"Yang kami tanda tangani hari ini harus segera terasa manfaatnya di lapangan, di rumah-rumah pelanggan, di jalan raya, dan di atap-atap gedung. PLN akan terus membuka pintu kolaborasi seluas-luasnya, karena kemandirian energi adalah kerja bersama seluruh anak bangsa," pungkas Rozy.
Sebelumnya, Katadata (9/10/2026) melaporkan PLN menyiapkan insentif untuk konversi kompor LPG ke kompor listrik. Salah satunya diskon tambah daya bagi pelanggan 2.200 VA ke atas yang beralih ke kompor induksi.
Kolaborasi PLN dengan puluhan mitra ini menandai upaya menyatukan hunian, transportasi, dan energi hijau dalam satu ekosistem. Publik kini menunggu apakah layanan baru itu benar-benar meringankan biaya energi dan mengurangi impor.