PT PLN (Persero) membangun jaringan listrik Kendeng Utara sepanjang 23,6 kilometer sirkuit untuk menguatkan pasokan bagi warga Kecamatan Sale, Rembang. Proyek bernama Penyulang Semindo 2 itu masih berjalan per Kamis (29/10/2026) dan ditargetkan rampung pada awal 2027.
Persoalan tegangan listrik di Sale bukan cerita baru. Sejak 2023, warga menyampaikan keluhan penurunan tegangan lewat pemerintah kecamatan, kanal Lapor Gub, PDAM, hingga forum masyarakat setempat. Laporan Liputan6.com pada Kamis (29/10/2026) mencatat penguatan jaringan ini sebagai kebutuhan yang lama dinantikan pelanggan. Apalagi, berdasarkan data wilayah Kabupaten Rembang, Sale merupakan kecamatan terluas di kabupaten tersebut dengan 15 desa.
Mengapa Jaringan Listrik Kendeng Utara Dibangun?
Manager PLN ULP Rembang, Jati Kuncahyo, menjelaskan bahwa pasokan ke Sale selama ini bergantung pada jaringan dari Gardu Induk Rembang. Panjang jaringan itu sekitar 53 kilometer sirkuit. Menurut Jati, jarak tersebut menjadi salah satu faktor yang memicu penurunan tegangan. Secara teknis, makin jauh listrik mengalir dari gardu induk, makin besar tegangan yang hilang di sepanjang kabel.
Untuk menjawab masalah itu, PLN merancang Penyulang Semindo 2 sepanjang sekitar 23,6 kilometer sirkuit. Jaringan baru ini mendapat suplai dari Gardu Induk Semindo berkapasitas 30 MVA. PLN menyambungkannya dengan jaringan eksisting melalui skema joint feeder. Skema tersebut diharapkan menekan penurunan tegangan, meningkatkan keandalan, dan mempercepat pemulihan saat terjadi gangguan.
Bagi rumah tangga, tegangan yang stabil berarti lampu tidak redup dan peralatan elektronik bekerja normal. Pelaku usaha kecil juga lebih tenang menjalankan mesin dan pendingin. Karena itu, penguatan jaringan menyangkut keseharian warga, bukan sekadar urusan teknis PLN.
Medan Berbatu Kapur Menguji Ketangguhan Petugas
Jalur penyulang melintasi perbukitan Kendeng Utara di perbatasan Kabupaten Rembang dan Blora. Tanahnya berbatu dengan lapisan kapur yang keras. Kondisi itu menyulitkan penggalian lubang dan penanaman tiang, sehingga petugas menyesuaikan metode kerja.
Manager PLN ULP Blora, Wardoyo, mengakui medan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi progres di lapangan. Ia menyebut penanaman tiang masih terus berprogres karena kondisi medan cukup sulit dan berbatu. Pekerjaan pun berlangsung bertahap dan menuntut upaya ekstra.
Proyek ini berada dalam lingkup PLN UID Jawa Tengah dan PLN UP3 Kudus. Pengawasan lapangan dipegang PLN ULP Rembang dan PLN ULP Blora. Koordinasi antarsatuan kerja menjadi penting karena jalur melintasi dua kabupaten.
Dialog dengan Warga Menentukan Arah Jalur
Selain tantangan teknis, PLN menghadapi keberatan sebagian warga di Desa Jurangjero, Kecamatan Bogorejo, Blora. Warga bernama Raman menuturkan penolakan berawal dari aktivitas perusahaan pengolahan batu kapur di Desa Kajar, Kecamatan Gunem, Rembang. Menurut dia, pembakaran batu kapur dengan batu bara menimbulkan polusi udara dan bau menyengat.
PLN kemudian menggelar mediasi bersama pemerintah daerah, pemerintah desa, kepolisian, tokoh masyarakat, dan pihak perusahaan. Di saat yang sama, PLN menjajaki rute alternatif melalui Desa Waru, Kecamatan Jepon, Blora, serta Desa Kajar, Kecamatan Gunem, Rembang.
Camat Jepon, Andi Nurrohman, mengatakan PLN telah berkoordinasi dengan kecamatan dan Pemerintah Desa Waru. Sosialisasi lalu melibatkan BPD, kelembagaan desa, pengurus RT dan RW, tokoh masyarakat, hingga perwakilan pemuda. Andi menilai listrik yang andal perlu disiapkan sejak sekarang, terutama bila Desa Waru, Soko, dan Tempuran berkembang menjadi kawasan wisata.
Dukungan juga datang dari unsur keamanan. Kapolsek Jepon, IPTU H.M. Junaidi, menyatakan Forkopimcam mendukung selagi diterima baik oleh masyarakat. Pernyataan itu menegaskan bahwa penerimaan warga tetap menjadi pertimbangan utama proyek.
Target Rampung Awal 2027 dan Harapan Warga
PLN menargetkan pekerjaan dapat dimaksimalkan hingga awal 2027. Setelah terbangun, jaringan baru diharapkan memperbaiki kualitas tegangan dan meningkatkan keandalan pasokan di Rembang dan Blora. Penguatan ini juga membuka peluang layanan yang lebih baik bagi calon pelanggan yang ingin pasang baru atau tambah daya.
Wardoyo berharap pembangunan ini dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Ia juga menyinggung kebutuhan pelanggan yang hendak memasang sambungan baru maupun menambah daya agar terlayani dengan baik.
Pada akhirnya, keberhasilan proyek ini tidak hanya diukur dari tiang yang berdiri dan kabel yang terbentang. Ukurannya juga mencakup kemampuan PLN, pemerintah, dan warga menyelaraskan kebutuhan infrastruktur dengan kondisi lingkungan. Jika berjalan sesuai rencana, warga Sale akan merasakan layanan listrik yang lebih andal mulai awal 2027.
Sumber: Liputan6 (29/10/2026), keterangan PLN ULP Rembang dan ULP Blora, data wilayah Kabupaten Rembang. Diperbarui 30 Oktober 2026.